29 October 2014

29 Oktober – Oleh Iman Ishak Dan Yakub Memandang Masa Depan

Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau. Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf. – Ibrani 11:20-21

Ketika menyatakan sebuah nubuat berkat bagi keturunannya, Ishak dan Yakub menjadi teladan orang-orang yang memandang masa depan dengan iman.

Teladan yang pertama, Ishak, sebenarnya terjadi pada saat ia ditipu oleh salah seorang anaknya sendiri. Ishak berniat untuk memberkati anak sulungnya, Esau. “Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya:… olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati” (Kej 27:1,4). Yakub, yang namanya berarti “penipu,” menyamar menjadi seperti kakaknya dan menipu ayahnya, berusaha untuk mencuri berkat tersebut. “Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku" (Kej 27:19). “Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia” (Kej 27:23). Ketika kemudian Ishak mengetahui tentang penipuan itu, Ishak tidak mencabut berkat tersebut. Tuhan menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena iman kepada rencana Allah.

Teladan yang kedua, Yakub, juga terjadi dalam situasi yang tidak biasa. Anak dari Yakub, yaitu Yusuf, membawa kedua cucunya, Efraim dan Manasye, kepada Yakub untuk diberkati. “Adapun mata Israel telah kabur karena tuanya, jadi ia tidak dapat lagi melihat. Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya” (Kej 48:10). Yusuf membawa Efraim, anak yang bungsu, mendekat kepada tangan kiri Yakub dan Manasye, anak yang sulung, mendekat kepada tangan kanan Yakub. Namun, Yakub menyilangkan tangannya sehingga menukar berkat yang utama. “Katanya kepada ayahnya: "Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya." Tetapi ayahnya menolak, katanya: "Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya” (Kej 48:18-19).

Kedua tindakan ini sepertinya tidak terlalu penting bagi kita. Tetapi, Tuhan mencatatnya sebagai langkah iman yang berarti bagi Dia. Berkat-berkat ini mencerminkan aspek kedaulatan rencana Allah, walaupun bertentangan dengan kebiasaan dan menggunakan cara-cara yang tidak wajar.

Ya Allah yang berkuasa, aku menundukkan diri dalam iman kepada rencana dan tujuan-Mu yang sempurna. Aku dihibur oleh kenyataan bahwa kehendak-Mu tidak dapat digagalkan oleh ketidak wajaran ataupun oleh tradisi dan kebiasaan. Ajar aku untuk memandangk masa depan dalam iman kepada kebijaksanaan dan kedaulatan-Mu, Amin.
___    

No comments:

Post a Comment