31 August 2014

31 Agustus – Musa Mengandalkan Tuhan Dalam Peperangan

Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu. – Ulangan 20:3-4

Musa adalah contoh lain dari orang yang hidup di dalam kasih karunia Tuhan di zaman perjanjian lama. Ia tahu akan kebutuhan mengandalkan kuasa Allah yang tak terbatas, dan tidak mengandalkan kekuatan manusia yang terbatas. Salah satu ilustrasi dari hal ini adalah ketika Musa mengingatkan bangsa Israel akan keterlibatan Allah di dalam peperangan.
Ketika umat Israel akan memasuki Tanah Perjanjian, banyak peperangan yang akan mereka hadapi. Peperangan ini tidak dapat dihindari, karena bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah sudah memperkuat pertahanan mereka di dalam Tanah Perjanjian itu: “Karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu” (Ul 9:5). Oleh sebab itu sejarah bangsa Israel mencatat dari satu peperangan kepada peperangan yang lain.

Musa menyampaikan kebenaran yang harus didengar oleh bangsa Israel saat mereka semakin dekat kepada medan pertempuran. “Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka.” Seringkali ketika peperangan datang, musuh terlihat begitu kuat dan tak terkalahkan: “Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan engkau melihat kuda dan kereta, yakni tentara yang lebih banyak dari padamu” (Ul 20:1). Secara alamiah, manusia akan tergoda untuk menjadi lemah iman, takut, gentar dan gemetar. Cobaan yang lain adalah dengan mencoba untuk melawan musuh dengan kekuatan yang sama, melawan kuda dengan kuda, melawan kereta dengan kereta. Alkitab memperingatkan kesia-siaan dari mengandalkan kekuatan duniawi. “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN” (Yes 31:1).

Musa sadar bahwa umat Tuhan perlu diingatkan bahwa Allah ingin menjadi harapan mereka. Ketika kita masuk ke dalam peperangan hidup, Tuhan senantiasa menyertai kita. “Sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu.” Ia ada tidak saja untuk menghibur kita, tetapi juga untuk berperang bagi kita: “Untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu.” Tuhan dapat berperang bagi umat-Nya dalam berbagai macam cara. Ia dapat mengubah hati orang-orang yang melawan kita. Ia dapat menggagalkan rencana musuh. Ia dapat menjebak mereka di dalam rencana jahat mereka sendiri. Ia dapat membuat musuh saling menyerang di antara mereka sendiri. Ia dapat memberikan kemenangan kepada kita dengan cara apapun yang Ia inginkan.

Ya Tuhan, Pelindungku, aku menghadapi banyak peperangan yang membuat aku tertekan dan ketakutan. Aku sering berharap kepada kekuatanku sendiri atau mengandalkan bantuan orang lain. Tuhan, sekarang aku mau memandang Engkau sebagai Allah yang akan berperang bagi aku dan memberikan kemenangan kepadaku dengan cara apapun yang Engkau kehendaki, semata-mata untuk kemuliaan dan kehormatan-Mu saja, Amin.
___    

30 August 2014

30 Agustus – Yosua Dan Kaleb Memasuki Tanah Perjanjian

Bahwasanya orang-orang yang telah berjalan dari Mesir, yang berumur dua puluh tahun ke atas, tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, oleh karena mereka tidak mengikut Aku dengan sepenuh hatinya, kecuali Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, dan Yosua bin Nun, sebab keduanya mengikut TUHAN dengan sepenuh hatinya. – Bilangan 32:11-12

Mereka yang hidup dengan iman dan kerendahan hati akan masuk ke dalam kepenuhan berkat kasih karunia Tuhan. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6), “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri” (Rom 5:2). Yosua dan Kaleb menggambarkan kebenaran ini pada saat mereka masuk ke Tanah Perjanjian.

Kita sudah melihat bahwa karya keselamatan Allah adalah “dari” dan “kepada.” “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup” (1 Yoh 3:14). Hidup yang sudah diberikan kepada kita seharusnya dialami di dalam kelimpahan. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Dipanggilnya bangsa Israel keluar dari Mesir oleh Allah kepada kepenuhan kelimpahan di Tanah Perjanjian menggambarkan kebenaran tersebut. “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel 3:8).

Hanya Yosua dan Kaleb yang masuk ke dalam Tanah Perjanjian dari semua orang dewasa dari generasi pertama orang Israel. “Bahwasanya orang-orang yang telah berjalan dari Mesir, yang berumur dua puluh tahun ke atas, tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan... oleh karena mereka tidak mengikut Aku dengan sepenuh hatinya, kecuali Kaleb bin Yefune... dan Yosua bin Nun.” Yosua tidak saja dapat masuk ke Tanah Perjanjian, ia juga akan memimpin bangsa Israel masuk ke dalam kemenangan Allah. “Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya... engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN... engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya” (Ul 31:7). Kaleb tidak saja dapat masuk ke Tanah Perjanjian, ia juga mendapatkan kekuatan oleh iman diusianya yang lanjut. “Pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk” (Yos 14:11).

Sebaliknya, rakyat Israel yang lain mengikuti panggilan Tuhan untuk keluar dari Mesir, tetapi mereka tidak mengikuti Dia masuk ke dalam Tanah Perjanjian. Orang-orang Kristen juga melakukan kesalahan yang serupa. Mereka mengikuti Tuhan ketika Ia memimpin mereka keluar dari kematian rohani, dosa dan rasa bersalah. Mereka sudah “keluar dari Mesir.” Dosa-dosa mereka sudah diampuni. Mereka sudah memiliki hidup yang baru di dalam Kristus. Namun, mereka tidak mengikuti Tuhan “masuk ke Tanah Perjanjian.” Mereka tidak mengikuti dengan iman untuk masuk ke dalam kelimpahan hidup. Mereka tidak mengikuti Tuhan di dalam pengandalan dan kerendahan hati kepada Tuhan bagi perubahan, agar dapat menghasilkan buah-buah, dan agar dapat menikmati kemenangan rohani.

Ya Tuhan Allah Israel, aku berterima kasih karena Engkau sudah membawa aku keluar dari Mesir, yaitu perbudakan rohani yang aku alami. Sekarang, seperti Yosua dan Kaleb, aku ingin mengikuti Engkau sepenuhnya ke dalam kelimpahan yang Engkau sediakan bagiku. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Amin.
___    

29 August 2014

29 Agustus – Hidup Dalam Kasih Karunia Di Masa Perjajian Lama

Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya… “Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita... Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu…  TUHAN menyertai kita.” – Bilangan 14:6, 8-9

Di sepanjang perjanjian lama, kita dapat menemukan contoh dari orang-orang yang hidup oleh kasih karunia Tuhan. Mereka mungkin tidak menggambarkan apa yang mereka alami dengan istilah kasih karunia. Tetapi, pengandalan mereka kepada karya Allah yang bekerja bagi mereka sama dengan yang kita mengerti. Hidup dalam kasih karunia adalah mengenai Allah yang bekerja di dalam hidup manusia. Walaupun orang-orang dalam perjanjian lama ini lahir di dalam hukum Taurat, mereka tidak dapat hidup dengan hukum Taurat. Hukum Taurat tidak menyediakan sumber daya untuk kehidupan. Tanpa karya Tuhan, satu-satunya sumber daya adalah kekuatan daging manusia. Dan hal tersebut tidak akan pernah cukup untuk dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Yosua dan Kaleb menyadari bahwa kesanggupan Allah (kasih karunia-Nya) adalah satu-satunya harapan yang dapat diandalkan.

Kedua belas orang Israel baru saja kembali dari tugas mengintai Tanah Perjanjian. Sepuluh dari mereka memiliki sudut padang yang sama. “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya… Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar… Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita” (Bil 13:27-28, 31). Laporan buruk mereka didasarkan kepada apa yang mereka lihat, dibandingkan dengan apa yang mereka miliki. Berdasarkan perbandingan tersebut mereka menyimpulkan: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu.” Mereka membandingkan dua kekuatan manusia. “Mereka lebih kuat dari pada kita.”

Yosua dan Kaleb sangat terggangu dengan kesimpulan tersebut. “Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya.” Mereka menyadari bahwa cara pandang tersebut mengabaikan apa yang Tuhan sudah janjikan dan apa yang Tuhan dapat lakukan. “Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita.” Mereka menyadari bahwa laporan sebagian besar pengintai itu didasarkan kepada penglihatan dan kemampuan manusia, dan hal tersebut sebenarnya merupakan pemberontakan terhadap Allah. “Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu.” Pemberontakan mereka adalah dengan takut kepada manusia dan tidak percaya kepada Allah. Sebenarnya bangsa Israel hanya perlu mengingat bahwa Tuhan sudah berkomitmen kepada mereka. “TUHAN menyertai kita.” Tuhan menginginkan dan mampu untuk menyerahkan tanah tersebut kepada mereka.

Tuhan yang maha kuasa, aku diingatkan bahwa lebih banyak cara pandang yang didasarkan kepada penglihatan manusia dan kekuatan duniawi. Tolong aku untuk bisa seperti Yosua dan Kaleb. Aku ingin memiliki cara pandang yang berdasarkan kepada apa yang Engkau janjikan dan apa yang Engkau dapat lakukan, Amin.
___    

28 August 2014

28 Agustus – Kepastian Dari Semua Janji-Janji Allah

Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu... bukanlah "ya" dan "tidak", tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada "ya". Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. – 2 Korintus 1:19-20

Kita sudah melihat bahwa janji-janji Tuhan ada yang “berharga dan sangat besar” adapula yang “tidak populer.” Kelompok yang pertama mendatangkan semangat, kekuatan, pengharapan dan penghiburan. Sebagai contoh, “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku!” (Mzm 138:8). Kelompok yang kedua memberi peringatan, menyadarkan, memberikan kerendahan hati dan mempersiapkan kita. Sebagai contoh, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Tim 3:12). Lebih dari itu, baik kita menerima dengan sukacita janji-janji-Nya yang “berharga dan sangat besar,” maupun bergumul dengan janji-janji-Nya yang “tidak populer” ada sebuah kepastian bahwa semua janji-janji-Nya itu akan digenapi. Ayat renungan kita hari ini menggarisbawahi jaminan tersebut. Jaminan ini berhubungan erat dengan karakter dari Yesus Kristus itu sendiri.

Ketika rasul Paulus dan tim penginjilanya berkhotbah mengenai Tuhan Yesus Kristus, pesan yang disampaikan bukanlah pesan “ya-dan-tidak.” “Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu... bukanlah "ya" dan "tidak"” Karakteristik dari pesan mengenai Yesus bukanlah sesuatu yang tidak pasti. Ia adalah setia dan teguh. Pesan mengenai Dia, dan juga pesan yang Ia sampaikan, adalah “Ya.” Yaitu pesan yang pasti dan terjamin. Yesus bukan “dapat” menjadi Anak Allah, Ia “adalah” Anak Allah. Yesus bukanlah “dapat” menyelamatkan semua orang yang berseru kepada Dia, Ia “pasti” menyelamatkan mereka. Bukan hanya sebagian dari janji-janji-Nya yang akan digenapi, tetapi semuanya pasti digenapi. Nabi Yehezkiel menyatakan kebanran ini mengenai pribadi Allah. “Sebab Aku, TUHAN, akan berfirman dan apa yang Kufirmankan akan terjadi” (Yeh 12:25). “Tidak satupun dari firman-Ku akan ditunda-tunda. Apa yang Kufirmankan akan terjadi” (Yeh 12:28). Rasul Yohanes menambahkan sebuah istilah mengenai Juru Selamat yang kita andalkan: “Yesus Kristus, Saksi yang setia” (Why 1:5). Tidak heran jika “di dalam Dia hanya ada "ya". Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah.” Allah kita akan dengan setia melakukan semua yang pernah Ia katakan di dalam semua janji-janji-Nya. Hasil dari semuanya itu adalah kemuliaan bagi Dia, saat Ia menggenapi semua janji-janji-Nya di dalam dan melalui hidup kita.

Dari hari ke hari di sepanjang sejarah anak-anak Allah, ada orang-orang percaya yang hidup di dalam berkat kepastian janji-janji Tuhan, tetapi ada juga yang tidak. Hal yang menentukan adalah iman atau ketidak percayaan. Yosua dan Kaleb dapat masuk ke tanah perjanjian. Sementara semua orang dari angkatan mereka “tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (Ibr 3:19).

Ya Tuhan, aku rindu menjadi orang yang percaya kepada janji-janji-Mu, hidup dalam iman kepada kepastian penggenapanya. Aku berterima kasih karena Engkau sudah menyiapkannya bagiku. Engkau sudah berjanji kepadaku, dan Engkau ingin agar aku mengandalkan Engkau untuk menggenapinya. Aku bersukacita karena semua janji-Mu adalah Ya dan Amin di dalam Nama Yesus Kristus Tuhanku! Amin.
___    

27 August 2014

27 Agustus – Janji Yang “Tidak Populer” Mengenai Aniaya

Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. – 2 Timotius 3:12

Sekali lagi kita akan melihat kelompok janji yang “tidak populer.” Janji ini menjamin bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus akan menderita aniaya. Di dalam dunia gereja yang mengandalkan kenyamanan, kekayaan dan popularitas, janji ini sangat tidak disukai.

Janji ini diberikan kepada mereka yang ingin hidup di dalam kesalehan. “Setiap orang yang mau hidup beribadah.” Hidup saleh adalah kehendak Tuhan bagi umat-Nya. “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1 Tim 6:11). Tuhan sendiri menyatakan bahwa ada berkat yang melimpah jika kita sungguh-sungguh ingin hidup dalam kebenaran. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6a). Berkat yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang mengejar kebenaran adalah: “mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6b).

Namun, kita sudah melihat bahwa berkat kepuasan akan kebenaran bukanlah satu-satunya yang dijanjikan kepada mereka yang hidup dalam kesalehan. Aniaya juga dijanjikan kepada mereka. “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Perhatikan kepastian dari janji ini. “Setiap orang yang mau hidup beribadah... akan menderita aniaya.” Tidak ada pengecualian.

Semua orang yang dengan tulus hati mengikuti Tuhan Yesus Kristus akan mengalami konsekuensi yang Tuhan sendiri alami ketika Ia berjalan dalam kesalehan. “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Tidak semua orang mengagumi Yesus karena hidupnya yang benar. Ia ditentang, dihina, dimusuhi dan dikhianati. Kita tidak perlu kaget jika aniaya yang serupa menimpa kita.

Tentunya, janji akan aniaya ini tidak diberikan untuk membuat kita patah semangat menjalani kehidupan yang saleh. Namun untuk mempersiapkan kita akan kesulitan yang pasti akan kita hadapi saat kita tumbuh menjadi semakin seperti Kristus. Tuhan bahkan memberikan semangat agar kita hidup benar, supaya kita dikuatkan untuk mengejar kehendak-Nya yang kudus dalam hal ini. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:10).

Aniaya akan mengingatkan kita bahwa kita sedang menuju sorga. Aniaya membuat kita dapat menikmati kasih karunia ilahi yang memampukan kita untuk terus berjalan dalam kesalehan.

Ya Tuhan sumber kebenaran, aku rindu untuk berjalan dalam kesalehan. Kuatkan hatiku dengan kasih karunia-Mu supaya aku dapat terus berjalan dalam kebenaran. Tolong agar aku tidak mundur walaupun aku pasti akan mengalami aniaya. Biarlah aku tetap berdiri walaupun aniaya semakin berat. Aku mengandalkan janji-janji-Mu bahwa aku dapat melewati peperangan ini, di dalam nama TuhanYesus Kristus, Amin.
___    

26 August 2014

26 Agustus – Janji Yang Paling Berharga Tentang Mengambil Bagian Dalam Kodrat Ilahi (2)

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. – 2 Petrus 1:4

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. – Yohanes 15:4-5

Janji mengenai mengambil bagian dalam kodrat ilahi begitu berharga dan sangat besar sehingga kita perlu merenungkannya lebih jauh. Mengambil bagian dalam kodrat ilahi adalah sebuah konsep yang sulit untuk dimengerti. Alkitab dengan jelas mengundang kita untuk hidup dari hari ke hari di dalam Kristus. . “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Namun bagaimana caranya untuk melakukan kebenaran ini? Di dalam pengajaran mengenai pokok anggur, Yesus memberikan sebuah ilustrasi yang sangat indah untuk menjelaskan kebenaran rohani ini.

Contoh sehari-hari yang Yesus berikan adalah mengenai sebuah pokok anggur, ranting-rantingnya, dan buah anggur yang akan muncul. Ranting-ranting anggur tidak dapat hidup dengan dirinya sendiri. “Ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri.” Untuk dapat berbuah, sebuah ranting harus mendapatkan hidup yang disediakan oleh pokok anggur. “Ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur.” Hal ini dapat dilihat pada kehidupan nyata dengan memisahkan sebuah ranting dari pokok anggurnya. Tidak akan ada buah anggur yang muncul dari ranting tersebut. Sumber kehidupan dari pokok anggur sangatlah penting bagi ranting tersebut.

Aplikasi rohani dari ilustrasi tersebut menyatakan bahwa Yesus-lah pokok anggur itu dan kita adalah ranting-rantingnya. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.” Jika kita ingin agar hidup kita menghasilkan buah kehidupan Kristus, maka kita harus mendapatkan sumber kehidupan dari Kristus. Kita sebagai ranting tidak memiliki sumber kehidupan itu sendiri: “Demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Sayangnya, banyak orang Kristen dalam kehidupannya mengandalkan kekuatannya sendiri, tidak mengandalkan kehidupan yang disediakan sang Pokok Anggur yaitu Yesus. “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Kehidupan kekristenan yang sejati hanya mungkin dengan mengandalkan sumber kehidupan yang disediakan oleh Yesus bagi kita.

Sekali lagi, kita diingatkan bahwa kerendahan hati dan iman adalah aplikasi praktis untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita harus dengan rendah hati mengandalkan Yesus sebagai sumber kehidupan yang berbuah, sama seperti ranting harus mengandalkan pokok anggur agar dapat menghasilkan buah anggur.

Tuhan Yesus, aku berterima kasih karena aku tidak harus menghasilkan kehidupan itu sendiri. Ajar aku untuk hidup mengandalkan Engkau. Dengan rendah hati aku ingin tinggal di dalam Engkau, supaya Engkau dapat hidup di dalam dan melalui aku, untuk kemuliaan-Mu, Amin.
___    

25 August 2014

25 Agustus – Janji Yang Paling Berharga Tentang Mengambil Bagian Dalam Kodrat Ilahi (1)

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. – 2 Petrus 1:4

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat ... sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. – Galatia 3:13-14

Kali ini kita akan merenungkan inti dari janji-janji Tuhan “yang berharga dan yang sangat besar.” Melalui janji, Tuhan menyediakan suatu jalan yang yang memungkinkan kita memungkinkan kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi. “Supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”

Suatu kesempatan yang luar biasa bahwa manusia dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Janji Tuhan membuat hal mungkin untuk dialami oleh manusia. Tentunya hal ini bukan berarti manusia dapat menjadi tuhan (seperti yang banyak diajarkan oleh aliran sesat). Hanya Allah saja yang dapat menjadi Tuhan. “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku” (Yes 46:9). Namun demikian, manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi, walaupun ia tidak akan pernah menjadi tuhan. Hal ini dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus yang datang dan tinggal di dalam hidup orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus mati bagi kita supaya Ia dapat hidup bagi kita. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh 6:47). Hidup yang Tuhan Yesus ingin kita alami adalah hidup-Nya sendiri. “Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati"” (Yoh 11:25), “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku"” (Yoh 14:6).

Rasul Paulus mengajarkan kebenaran agung ini dengan mendalam. “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus” (1 Tim 1:1). Ia mengerti bahwa pelayanan kerasulannya tidak hanya berdasarkan kehendak Allah, tetapi juga mengandalkan kehidupan rohani yang Tuhan janjikan. Jadi, ia mengakui bahwa Kristuslah yang menjadi hidupnya: “Kristus, yang adalah hidup kita” (Kol 3:4). Diri Paulus bukanlah sumber dari kehidupan kekristenan yang ia jalani. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:2). Sumber kehidupan Rasul Paulus adalah Tuhan Yesus Kristus.

Inilah janji perihal Roh Kudus itu. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat ... sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Pada saat kita lahir baru, Roh Kudus turund dan tinggal di dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus kemudian menyingkapkan kebenaran ini kepada kita melalui firman Tuhan. Roh Kudus juga mencurahkan hidup Kristus melalui setiap anak Allah yang dengan rendah hati mengandalkan Tuhan. “Rohlah yang memberi hidup” (Yoh 6:63).

Tuhan Yesus, aku berterima kasih kepada Mu yang sudah menyediakan hidup-Mu bagiku. Sebuah janji yang sangat berharga. Ajar aku untuk berjalan sesuai dengan kehendak Roh-Mu, supaya hidup-Mu dapat dinyatakan melalui hidupku dari hari ke hari, Amin.
___    

24 August 2014

24 Agustus – Nubuat Yang “Tidak Populer” Tentang Kemurtadan

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.  – 1 Timotius 4:1-2

Kali ini kita akan kembali membahas janji yang “tidak populer” yaitu mengenai kemurtadan. Bagi mereka yang sedang terseret menuju kemurtadan, janji ini jelas tidak disukai. Lebih dari pada itu, bagi gereja yang lebih suka menerima hal-hal yang terdengar positif dan menolak hal-hal yang terdengar negatif (seharusnya menolak kesalahan dan menerima kebenaran), janji ini tidak ditanggapi.

Seseorang menjadi murtad dengan meninggalkan iman mereka, yaitu iman kepada karya kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Ayat renungan kita hari ini menubuatkan bahwa semakin dekat dengan akhir dari akhir zaman, akan ada orang-orang yang akan meninggalkan iman. “Di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad.” 

Sebelumnya mereka mengikuti firman Tuhan untuk beberapa saat. Lalu mereka kemudian murtad. Jika mereka tetap ada di dalam lingkungan gereja, maka pesan yang mereka sampaikan tidak akan lagi sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Rasul Petrus memberikan peringatan yang serupa. “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka” (2 Pet 2:1). Seperti munculnya nabi-nabi palsu di antara bangsa Israel, demikian juga akan muncul guru-guru palsu di dalam gereja.

Rasul Paulus memberikan beberapa petunjuk mengenai jalan menuju kemurtadan. Mereka akan “mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” Kesalahan dalam pengajaran mereka bermula dari mendengarkan ajaran sesat setan. Iblis dan pasukan roh-roh jahatnya berusaha untuk membingungkan dan menyesatkan ajaran firman Tuhan. Biasanya, pengajaran sesat ini memuaskan keinginan daging manusia untuk memuliakan dirinya sendiri.

Orang-orang ini juga melakukan “tipu daya pendusta-pendusta.” Tidak saja pengajaran mereka salah, hidup mereka juga akan dipenuhi dengan dusta dan tipu daya. Mereka akan menambahkan kesaksian-kesaksian palsu untuk memperkuat pesan mereka yang sesat. Biasanya melebih-lebihkan laporan keberhasilan pekerjaan atau pelayanan mereka.

Mereka akan mengajarkan begitu banyak kesesatan dan bahkan hidup dalam tipu daya mereka sendiri sehingga hati nurani mereka sudah kebal terhadap rasa berdosa. “Hati nuraninya memakai cap mereka.” Firman Tuhan sudah memperingatkan kita. Orang-orang yang murtad akan muncul pada hari-hari terakhir ini.

Ya Tuhan sumber kebenaran, aku bersyukur karena dengan kasih Engkau sudah memperingatkan aku terhadap bahaya kemurtadan. Biarlah aku semakin menghargai peringatan dalam janji ini. Tolong agar aku semakin mencintai kebenaran firman-Mu. Berikan aku hati untuk semakin mengerti perkataan-Mu. Pertajam aku agar aku bisa membedakan kesalahan dan kebenaran. Jagalah hati, perkataan dan perbuatanku agar selalu berada dalam kebenaran firman-Mu, Amin.
___    

23 August 2014

23 Agustus – Janji Yang Berharga Tentang Pekerjaan Tuhan Yang Menyempurnakan


TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! – Mazmur 138:8
 
Sekali lagi kita akan melihat salah satu dari janji Allah yang sangat berharga (2 Pet 1:4). Janji ini berkaitan dengan karya penyempurnaan Allah di dalam hidup mereka yang mengenal Dia dan dengan rendah hati mengandalkan Dia. Janji yang berharga ini adalah pendahuluan dari janji yang sudah kita bahas sebelumnya dari Filipi 1:6 “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya.”

Renungkanlah akibat yang luar biasa dari janji ini. “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku!” Tuhan kita sudah berjanji untuk menyelesaikan kehendak dan rencana-Nya dalam setiap aspek dari hidup kita. Mari kita lihat tiga contoh yang penting dari aspek hidup kita: pertumbuhan pengertian mengenai firman Tuhan, bertumbuh di dalam kesalehan, dan kedewasaan rohani dalam pernikahan bagi pasangan suami istri.

Firman Tuhan memperlihatkan bahwa Ia ingin agar kita memiliki pertumbuhan dalam pengetahuan akan Firman-Nya. “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras” (Ibr 5:12). Jika kita mau dengan rendah hati menerima makanan firman Tuhan, mencari Dia untuk pengertian rohani, maka Ia akan menyelesaikan hal tersebut bagi kita.

Firman Tuhan menyatakan kehendak-Nya agar kita tumbuh dalam kesalehan. “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit 2:11-12). Jika kita mencari Tuhan dan mengandalkan Dia untuk pertumbuhan kita dalam kesalehan, Ia akan menyelesaikan hal itu bagi kita.

Firman Tuhan memperlihatkan kehendak-Nya dalam aspek pertumbuhan rohani dalam sebuah pernikahan. Tuhan ingin pasangan suami istri untuk menjadi hamba yang saling melayani dalam sikap hormat di hadapan Tuhan: “Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Ef 5:21). Istri diminta untuk taat kepada suami sebagai pemimpin rohani. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” (Ef 5:22). Suami diminta untuk mengasihi istrinya dengan kasih yang rela berkorban seperti Kristus. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef 5:25). Saat setiap pasangan mencari Tuhan untuk kasih karunianya yang mengubahkan, Ia akan menyelesaikan hal ini bagi kita.

Allah Bapa yang di Sorga, aku mengakui banyak usaha sia-sia untuk menyempurnakan diriku sendiri. Aku mudah melupakan kebenaran bahwa Engkau sudah berjanji akan menyelesaikan karya-Mu di dalam hidupku. Usahaku hanya akan memadamkan karya kasih karunia Roh Kudus-Mu. Aku mohon agar Engkau menyelesaikan karya transformasi hidupku dalam area pengertian akan Firman-Mu, dalam kebutuhanku untuk tumbuh dalam kesalehan, dalam hubunganku dengan pasanganku, maupun dalam kesaksianku di tempat kerja, di ladang pelayanan – bahkan dalam seluruh aspek hidupku. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Amin.
___    

22 August 2014

22 Agustus – Janji Yang “Tidak Populer” Mengenai Hukum Tabur Tuai


Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. – Galatia 6:7-8
 
Sekarang kita akan kembali kepada kelompok janji yang “tidak populer.” Janji-janji dalam ayat renungan kita hari ini berbicara mengenai kepastian dari proses hukum tabur tuai. “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Di dalam dunia yang sering kali menolak pertanggungjawaban, janji-janji ini sangat tidak disukai.

Banyak orang tertipu dalam hal ini. Dengan keliru mereka berasumsi bahwa mereka tidak harus mengalami akibat dari benih perbuatan yang mereka tabur setiap hari. Jika seseorang memiliki pendapat tersebut, maka sebenarnya ia sedang mempermainkan Allah, sebagai pembuat hukum tabur tuai ini. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” Pola hukum tabur tuai rohani ini sebenarnya cerminan dari pola tabur tuai secara fisik. Jika seorang petani menabur benih jagung, maka ia pasti akan selalu menuai jagung. Petani tersebut tidak akan mungkin menuai gandum. Pola ini juga sama pastinya dalam aspek rohani. Setiap manusia menabur benih-benih rohani setiap hari dalam hidupnya: entah benih kedagingannya atau benih Roh Kudus, hasilnya setiap manusia akan menuai: entah “kebinasaan” atau “hidup yang kekal.”

Di seluruh dunia dan sayangnya, di banyak gereja, benih kedaginganlah yang banyak ditabuh setiap hari. Dalam perkataan, perbuatan, persekutuan, orang menabur benih kedagingan seperti yang tercatat dalam daftar di Galatia 5:19-21: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Benih-benih ini akan menghasilkan tuaian kebinasaan. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya.” Benih yang demikian menghancurkan kehidupan mereka yang hidup di dalamnya. Bagi orang tidak percaya, benih yang demikian akan berdampak berlipat kali ganda. Ketika orang percaya hidup dalam kedagingan dalam masa hidupnya, maka ia akan menuai kekeringan rohani, tidak bisa berbuah dan tidak memiliki hasrat untuk bersekutu dengan Tuhan.

Sebaliknya, ada benih yang lain yang dapat ditabur, dan menghasilkan tuaian yang jauh berbeda. “Tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Benih yang ditabur dengan mengandalkan Roh Kudus akan menghasilkan buah seperti yang tercatat dalam Galatia 5:22-23: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”

Allah Bapa di Sorga, aku menyesali setiap benih kedagingan yang sudah pernah aku tabur. Aku hanya mengalami kekeringan dan aku mengecewakan Engkau. Aku rindu untuk menabur benih Roh Kudus, yang akan memberi kelimpahan di dalam hidupku dan membawa kemuliaan bagi Engkau. Aku rindu untuk menyenangkan-Mu dengan buah Roh Kudus-Mu, Amin.
___    

21 August 2014

21 Agustus – Janji Yang Berharga Tentang Penyelesaian Pekerjaan Oleh Tuhan

Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. – Filipi 1:6

Sekarang kita akan kembali membahas kelompok janji yang sangat berharga (2 Pet 1:4). Ayat renungan kita hari ini adalah mengenai komitmen Allah untuk menyelesaikan karya keselamatan yang Ia sudah mulai di dalam kita ketika kita lahir baru.

Jika kita menaruh iman kita di dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, Allah sudah memulai suatu karya agung keselamatan bagi kita: “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu.”

Ia sudah membuat kita menjadi ciptaan yang baru di dalam Anak-Nya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17). Ia sudah menyediakan sumber kekayaan sorgawi yang tak terhitung bagi kita. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef 1:3). Betapa besar karya yang Ia sudah mulai di dalam kita. Namun, karya keselamatan Tuhan adalah karya yang sangat besar (Ibr 2:3). Sehingga, apapun yang sudah Ia kerjakan di dalam kita baru sebagian kecil dari keseluruhannya. Dalam tahap manapun kita dalam proses yang mulia ini, masih ada karya keselamatan yang masih Tuhan ingin kerjakan di dalam kita. Ia ingin agar pengertian kita, karakter kita dan pengalaman sehari-hari kita di dalam Kristus semakin penuh kita rasakan.

Lebih dari itu, Tuhan ingin agar kita yakin akan hal ini: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya.” Seperti kita sudah lihat dalam renungan kita sebelumnya, Tuhan tidak ingin manusia untuk hidup dengan pengandalan kepada diri sendiri. Hal tersebut pada dasarnya bentuk lain dari kesombongan. Bukan berarti sebagai orang Kristen kita tidak boleh memiliki keyakinan dalam hidup kita. Keyakinan kita harus ditunjukkan kepada Allah. “Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus” (2 Kor 3:4). Tuhan ingin agar kita memiliki keyakinan yang kokoh di dalam Dia bahwa Ia akan menyelesaikan karya keselamatan ini di dalam kita.

Ingatlah, karya keselamatan Tuhan akan diselesaikan di dalam hidup kita: “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” Tuhan sudah mendirikan sebuah tempat yang kekal bagi kita di dalam Sorga: “Di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” (Ef 2:6). Namun, Ia juga ingin agar kita hidup dalam kesalehan di dunia ini. “Supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef 4:1). Jalan hidup ini tidak didasarkan pada teori manusia mengenai perubahan perilaku. Tuhan sendirilah yang akan melakukan perubahan tersebut di dalam dan melalui hati kita. “Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya” (Heb 13:20-21).

Ya Tuhan, aku rindu untuk berjalan dalam realitas yang aku miliki di dalam Kristus. Aku bersyukur kepada Mu untuk firman-Mu yang membangun keyakinanku kepada Mu. Dengan segala kerendahan hati, aku bertobat dari pengandalan kepada diriku sendiri, dan berserah hanya kepada-Mu saja. Amin.
___