19 February 2014

19 Februari – Jangan Menyimpangkan Kasih Karunia Allah

Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus. Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus. – Yudas 1:3-4

Sejak masa gereja mula-mula, selalu ada ancaman dari mereka yang ingin menyimpangkan kasih karunia Allah. Penyimpangan ini selalu berhubungan dengan imoralitas dan legalisme.

Rasul Yudas memperingatkan masalah ini dalam suratnya. Ia mengajak orang Kristen untuk berjuang membela integritas Firman Tuhan. “Aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman.” Perjuangan ini sangat penting karena banyak orang agamawi yang berusaha mengubah kasih karunia, mereka bekerja dengan diam-diam di dalam gereja. “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu… orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka.” Mereka berusaha mengubah pesan kasih karunia Allah menjadi surat izin untuk berdosa. Kasih karunia adalah cara Allah untuk mengampuni dosa manusia dan mengubah orang berdosa tersebut supaya ia mampu untuk hidup semakin lama semakin menjauhi dosa. Kasih karunia bukan berarti Allah mengizinkan kita untuk merancangkan dan mengikuti keinginan daging kita.

Topik ini juga timbul dalam kitab Roma, saat ada orang-orang yang berpikir hal yang serupa. Mereka mulai dengan kebenaran yang mulia. “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20). Betapa luar biasa! Tidak peduli seberapa besar dan seberapa dalam dosa kita, kasih karunia Allah untuk pengampunan dan perubahan jauh lebih besar lagi. Namun betapa mengerikan ketika seseorang berpikir bahwa lebih baik untuk hidup dalam dosa karena dengan demikian akan menghasilkan kasih karunia yang lebih besar lagi. “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” (Roma 6:1). Jawaba Paulus tegas sekali: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Roma 6:2). Kasih karunia tidak pernah menjadi alasan untuk berbuat dosa.

Dalam surat Galatia, Paulus membahas penyimpangan kasih karunia yang sebaliknya, yaitu legalisme. “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Galatia 1:6-7). Dalam jemaat Galatia ada pihak-pihak ingin menambahkan peraturan-peraturan kepada injil kasih karunia Allah. Mereka mengubah kasih karunia menjadi usaha manusia. Paulus mengatakan bahwa hal tersebut memutarbalikan Injil. Baik imoralitas maupun legalisme, keduanya menyimpangkan kasih karunia Allah.

Ya Allah yang maha pemurah, aku mohon ampun jika seringkali aku membuat kasih karunia sebagai alasan untuk melakukan dosa, aku juga sering menambahkan kasih karunia dengan usahaku sendiri. Terima kasih Tuhan kasih karunia-Mu yang mengampuni dan memulihkan aku. Berikan kepada aku kepekaan untuk sungguh-sungguh berjuang demi kasih karunia yang sejati. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, amin.
___

No comments:

Post a Comment